Minggu, 07 Juli 2013

Cirebon Surganya Kuliner

Pagi di Kota Cirebon seperti datang lebih awal. Serasa baru saja merebahkan tubuh setelah perjalanan panjang semalam, sinar matahari nan terik sudah bertengger di atas atap rumah tempat saya menginap. Sangat jarang sekali menemui kota ini dengan suasana pagi yang dingin dan berudara segar.

Pertanyaan pertama yang muncul saat saya membuka tirai jendela adalah; sajian khas apalagi yang biasa dihidangkan kota ini untuk mengawali hari? Ya, sebuah pertanyaan yang wajar. Kota Cirebon, selain dikenal memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, juga menyediakan beraneka ragam khas sajian kuliner yang unik dan lezat. Bagi para pelancong yang doyan makan, kota ini menawarkan menu-menu istimewa yang patut untuk dicicipi. Ada nasi jamblang, docang, nasi lengko, mie koclok, dan banyak lagi kuliner yang dapat ditemui di sepanjang jalan di kota ini.

Setelah meminta pertimbangan dari seorang teman yang telah tahu banyak mengenai kota ini, saya memutuskan untuk mencicipi docang, kuliner khas kegemaran masyarakat Cirebon. Untuk menemukan docang tidak begitu sulit. Para penjaja kuliner yang satu ini biasa menjual dagangannya di pinggir-pinggir jalan. Dari tempat saya menginap di pinggir kota, mengendarai sepeda motor hanya dibutuhkan waktu kira-kira 15 menit untuk menemukan para penjual docang di jantung kota.
Seorang ibu penjual docang sedang menyiram kuah di atas piring

Menurut penuturan teman saya, docang merupakan kuliner khas yang biasa disajikan untuk sarapan pagi. Kedudukan kuliner ini bisa disamakan dengan gudeg atau nasi liwet yang dimiliki kota Yogyakarta dan Solo. Bila gudeg dan nasi liwet adalah menu sarapan orang Yogkarta dan Solo, maka docang menjadi menu sarapan favorit bagi orang Cirebon sebelum memulai aktivitasnya.

Dilihat sekilas tampilan seporsi docang terkesan “rame”. Sepiring docang terlihat seperti sup yang berisi lontong dan ditaburi kerupuk. Unsur bahan makanan lain yang terdapat dalam seporsi docang adalah daun singkong dan toge. Kekhasan makanan ini terdapat pada rasa kuahnya yang sangat gurih.


Seperti umumnya di berbagai tempat di Jawa, orang Cirebon menyimpan cerita unik dibalik makanan yang satu ini. Masyarakat Cirebon percaya bahwa docang merupakan peninggalan seorang pangeran Cirebon sejak berabad-abad lalu. Alkisah, suatu hari seorang pangeran mengadakan acara pengajian bersama dengan para pengikutnya. Oleh karena makanan yang disajikan untuk para pengikutnya tidak habis, si pangeran yang merasa kesal lalu mencampurkan makanan yang masih tersisa ke dalam sebuah wadah. Jadilah sisa-sisa makanan itu menjadi sebentuk makanan yang kemudian digemari para pengikutnya dan dikenal dengan nama docang.

Jika sarapan di pagi hari terasa pas dengan sepiring docang yang gurih, sajian makan siang menggugah selera saya temukan di dalam sepiring nasi lengko. Nasi lengko adalah kuliner khas Cirebon kedua yang saya nikmati. Di Cirebon kuliner yang identik dengan bumbu kacangnya ini juga dengan mudah dapat saya temui.
Salah satu rumah makan terkenal yang menyajikan nasi lengko adalah nasi lengko Pagongan milik H. Barno. Menjelang jam makan siang, rumah makan yang juga menawarkan menu sate kambing muda itu selalu ramai dipenuhi pengunjung. Umummnya pengunjung adalah warga Cirebon dan para wisatawan dari luar daerah yang ingin mencicipi kelezatan nasi lengko dan sate kambing muda olahan rumah makan H. Barno. Harga seporsi nasi lengko relatif murah.


Cirebon memang menawarkan sederet kuliner yang bukan saja lezat, tetapi juga legendaris. Tempat ini ibarat surga kuliner. Meski banyak sajian khas lainnya yang belum sempat saya cicipi, rasa menggugah docang dan nasi lengko sudah cukup untuk memenuhi hasrat lidah saya yang selalu penasaran dengan beragam kuliner lokal setiap kali mengunjungi sebuah kota.   

Cirebon, 5 Mei 2012


Rabu, 26 Juni 2013

Ada Cerita di Balik Kesemrawutan Cirebon

Hari Sabtu (4/5) bulan Mei lalu, aku meluncur dari dataran tinggi Kuningan menuju kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa yang amat terkenal, Cirebon. Tak begitu jauh untuk menempuh perjalanan dari Kuningan menuju Cirebon. Mengendarai mobil hanya butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit dengan kondisi jalanan yang lumayan lapang.

Panas dan ruwet, itu kesan pertamaku saat memasuki kota yang hanya berjarak dua atau tiga kilometer dari bibir laut itu. Pemandangan seperti ini mengingatkanku pada kota pelabuhan lainnya di Jawa. Jakarta, Surabaya, Semarang, tiga kota pelabuhan yang berstatus internasional, adalah prototipe kota pelabuhan Jawa. Minim perhatian terhadap urusan penataan kota dan ketidaklayakan infrastruktur menjadi pemandangan khas anomali yang selalu menonjol di kota-kota pelabuhan tersebut.

Kalau aku tak salah mengingat, sejarawan kenamaan Prancis, Dennys Lombard, memasukan kota Cirebon ke dalam kategori kota pelabuhan kuno. Ciri yang menonjol pada jenis kota ini adalah penataan ruang yang kurang teratur. Dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2, diperlihatkan Dennys Lombard betapa Kota Cirebon sangat jauh dari penataan yang terstruktur rapi. Kenyataan inilah yang membedakan kota Cirebon dengan kota pedalaman Jawa seperti Yogyakarta atau Solo. Dibandingkan Cirebon, kedua kota belakangan ini membangun peradabannya dengan berpedoman pada konsep yang dikenal dengan istilah konsep “kosmologi”.



Tapi, benarkah kota Cirebon memang tak berkonsep seperti dikatakan Dennys Lombard? Jika dilihat dari kecenderungan kota-kota kuno yang menganut ideologi arsitektural kosmologis Hindu, Cirebon memang tidak sesuai dengan konsep tersebut. Malah, terkesan kosmologis Hindu sama sekali tidak nampak dalam kota ini. Penataan Kraton Kasepuhan, yang dalam pandangan umum kraton Jawa diidentikan sebagai pusat kosmos, tidak dibarengi dengan penataan ruang di luar dinding keraton. Pertumbuhan pemukiman padat yang tidak terkontrol di luar dinding krraton menjadi penyebab utama kesemrawutan kota ini.
Terlepas dari itu semua, Cirebon tetap memberi kesan pada kunjungan pertamaku ke kota ini. Kota ini adalah kota tua yang telah hidup sejak abad awal pengislaman. Kota ini meninggalkan jejak-jejak sejarah jika kita mau melihatnya secara lebih dekat. Peninggalan sejarah bisa kita temukan di tiap-tiap sudut kota dari mulai ceceran bangunan tua, folklore yang diceritakan dari mulut ke mulut, hingga penganan tradisional yang banyak dijajakan di emperan jalan. Semuanya mewarisi jejak masa lalu kota pelabuhan bernama asal Caruban yang berarti Udang itu.

Salah satu tempat paling suci yang aku kunjungi selama berada di kota ini adalah Makam Sunan Gunung Jati. Makam inilah yang dikunjungi para peziarah dari berbagai pelosok negeri. Tak hanya datang dari Jawa, para peziarah tak jarang berasal dari luar Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan. Ratusan orang datang berombongan setiap harinya untuk memanjatkan doa di makam orang suci ini. Sejak dahulu kala, Sunan Gunung Jati dihormati dan dimasukan ke dalam jajaran ulama penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Saat aku memasuki area makam, gema suara doa-doa mengalun khusuk mengisyaratkan hati ini agar merendahkan diri. Aku pun tak sembarangan saat memasuki makam ini. Begitu dihormatinya sang ulama, sampai-sampai tak putus-putusnya orang berdatangan demi melihat makam Sunan Gunung Jati.


Berjalan-jalan mengamati makam, aku menemukan sisi keunikan bangunan makam. Dinding-dinding makam sebagian berhiaskan keramik-keramik yang berasal dari Cina. Sebuah pemandangan yang bagi orang awam sepertiku tampak aneh. Mengapa makam orang suci ini berhiaskan keramik-keramik dari Cina?
Menurut penuturan warga setempat, sejak zaman dulu Sunan Gunung Jati dikenal sebagai ulama yang memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Cina. Bahkan, salah satu isteri sunan diyakini adalah seorang putri Cina. Bukti dari cerita ini bisa ditemukan di kompleks makam isteri Sunan Gunung Jati. Terletak persis bersebelahan dengan makam sunan, makam isteri Sunan Gunung Jati diwarnai dengan benda-benda yang biasanya hanya terdapat di klenteng Cina. Selain dinding komplek makam yang bercat merah dan dipenuhi pernak-pernik keramik dari Cina, di depan makan putri Cina tersebut terdapat tempat peletakan dupa yang identik sekali dengan tempat ibadah agama Konghuchu.


Keberadaan Sunan Gunung Jati dan akulturasi yang terjalin antara budaya Islam dan Cina, menguatkan posisi kota Cirebon sebagai kota pelabuhan yang selalu “terbuka”. Cirebon tidak hanya mampu mempertahankan perbaduan kebudayaan Jawa-Sunda yang telah melekat lama pada masyarakatnya, tetapi juga memberi kesempatan bagi masuknya unsur-unsur budaya lain. Barangkali tak salah, kalau Cirebon disebut sebagai pintu gerbang sekaligus tempat persilangan budaya yang beragam. Budaya Jawa-Sunda, budaya Islam, dan budaya Cina, berpadu menjadi orkestra yang indah.
Begitulah yang terpikir di benakku saat aku mengagumi kota ini di balik panas dan kesemrawutanya. Nilai-nilai historis ibarat panggung keseharian tempat di mana maysrakat Cirebon memainkan peranannya. Cirebon, si Roma dari Timur itu, tetap menarik bagi diriku.

Selasa, 25 Juni 2013

Mengenang Kejayaan Sebuah Moda Transportasi Tradisional

Matahari belum sejengkal keluar dari ufuk Barat, tapi aktivitas di lapangan utara Stadion Maguwoharjo Minggu pagi (16/6) sudah nampak hidup. Jalan aspal menuju stadion kebanggaan warga Sleman ini dipenuhi kendaraan berlalu-lalang. Sementara di salah satu sudut lapangan bertanah coklat di luar stadion telah siap berjejer seratusan gerobak sapi yang akan ikut memeriahkan acara Festival Gerobak Sapi Yogyakarta. Festival gerobak sapi menjadi ajang bersilaturahmi bagi para bajingers, sebutan untuk komunitas gerobak sapi di Yogyakarta.

Diselenggarakannya festival gerobak sapi tidak lepas dari kesadaran para bajingers terhadap benda warisan leluhur yang kian dilupakan di era sekarang. Ketika masyarakat sekarang beralih menggunakan alat transportasi bertenaga mesin, maka sebentuk moda transportasi tradisional bertenaga hewan mau tidak mau harus ditinggalkan. Gerobak sapi, alat transportasi tradisional peninggalan nenek moyang, kini tinggal menjadi benda antik di tengah menjamurnya kendaraan bermotor. Banyak orang yang tidak tahu bahwa pada masa kejayaannya gerobak sapi pernah menjadi moda trasnportasi utama di Jawa.

Pemanfaatkan gerobak sapi sebagai moda transportasi bisa dirunut sejak era sebelum kedatangan bangsa Belanda ke Tanah Jawa. Masyarakat Jawa menjadi kelompok masyarakat agraris yang memodifikasi gerobak sapi ini menjadi alat pengangkut. Petani Jawa menggunakan gerobak sapi untuk mengangkut hasil panen mereka dari sawah menuju ke pasar. Hasil-hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan selanjutnya dikirimkan ke pasar-pasar tradisional yang jaraknya tidak terlampau jauh dari perkampungan mereka.

Seiring dengan merebaknya perkebunan tebu di Jawa, fungsi gerobak sapi menjadi semakin penting. Pengangkutan tebu setiap masa panen menuju ke pabrik-pabrik biasa dilakukan dengan menggunakan gerobak sapi. Gerobak sapi menjadi komponen penting dalam sejarah industri gula sebelum kereta api mulai dikenalkan pada akhir abad ke 19.
 
 

 
Festival gerobak sapi yang baru pertama kali digelar diharapkan dapat membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap keberadaan moda transportasi warisan leluhur ini. Festival ini tidak hanya berusaha melestarikan gerobak sapi yang kini jumlahnya sudah terbilang jarang, tetapi juga untuk menjadikan gerobak sapi sebagai ikon Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

 
Festival ini diikuti oleh 170 anggota komunitas gerobak sapi. Para perserta yang berasal dari lima kabupaten di Provinsi DI Yogyakarta mempersolek gerobak sapi mereka dengan berbagai macam asesoris agar terlihat lebih unik. Semakin klasik penampilan gerobak sapi, maka semakin unik pula gerobak sapi tersebut. Selain keunikan yang terlihat dari bentuk gerobak dan asesorinya, para bajingers atau kusir gerobak sapi yang menggunakan pakaian adat Jawa memberikan nuansa klasik pada moda transportasi ini.
 

 
 
Dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono, festival gerobak sapi kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan mengelilingi perkampungan di sekitar stadion Maguwoharjo. Sebagai sajian penutup, festival ini dimeriahkan dengan sejumlah pertunjukan kesenian rakyat. Secara keseluruhan festival ini mengingatkan kepada kita semua akan kejayaan sebuah moda transportasi yang kini telah ditinggalkan.
 
 

Kamis, 13 Juni 2013

Tanah Kelahiran di Tapal Batas Indonesia-Malaysia

Bulan Juni adalah bulan bersejarah. Bulan Juni identik dengan bulan Bung Karno. Di bulan Juni, Bung Karno, sang putra fajar itu lahir. Di bulan Juni pula Bung Karno mencetuskan gagasan Pancasilanya. Tak heran kalo bulan ini diperingati setiap tahun oleh sluruh rakyat Indonesia.

Bila bangsa ini punya kesan mendalam pada bulan berangka 6, maka aku pun tak mau kentinggalan. Entah kebetulan atau tidak, aku juga dilahirkan di bulan ini. Tepat pada tanggal 13 Juni, 24 tahun yang lalu aku dilahirkan. Yang teristimewa, aku lahir bukan di tanah kelahiran kedua orang tuaku, Jawa. Aku dilahirkan di tanah sabrang nun jauh di sana, Pulau Kalimantan, di pintu gerbang perbatasan Indonesia-Malaysia.




Tarakan, atau tercatat di akta kelahiranku, Kabupaten Bulungan, menjadi tempat kelahiranku. Aku lahir di sebuah rumah berpapan triplek (kayu) dan beratap seng di sebuah perkampungan yang tak pernah kuketahui namanya. Di rumah yang sempit itu, aku kemudian tinggal bersama kedua orang tuaku, para perantau dari Jawa yang mencari peruntungan di ujung negeri utara kepulauan Indonesia.

Meski hidup dalam kondisi yang jauh dari kesejahteraan, aku masih mengingat betul saat-saat indah semasa kecilku. Aku mempunyai teman bermain bernama Becek (sekarang aku tak tahu ia di mana) yang sangat senang menggendongku dan mengajaku bermain ke mana-mana. Semasa kecil, aku juga diasuh oleh Mbah Mbok, seorang perantau asal Malang yang sangat menggagumi Bung Karno.



Di Tarakan, aku tinggal di perkampungan yang multikultural. Menurut cerita ibuku, kampung yang kami tempati dihuni oleh sebagian besar para perantau dari luar Kalimantan. Ada orang Bugis, ada orang Solo, dan ada pula orang Madura. Selama tinggal di sana kami hidup membaur dan saling memahami satu sama lain. Tak pernah terjadi satu kali pun konflik seperti pengusiran para perantau oleh penduduk asli seperti akhir tahun 1990-an yang mengerikan itu. Keluargaku bahkan sangat dekat dengan orang-orang Bugis.

Hidup di tanah perantauan memang membuka mata kita mengenai ke-Indonesiaan. Ibuku selalu bercerita seperti itu terhadapku. Beliau bertutur, bahwa hidup di Tarakan menjadikan beliau mengenal orang-orang Indonesia yang berbeda-beda etnis dan kepercayaan. Dari situ sesama bangsa Indonesia bisa belajar banyak hal. Di samping itu, hidup di perantauan pula telah membukakan mata kita mengenai ironi wilayah perbatasan. Ya, di Tarakan kami hidup dengan menggantungkan diri kepada Malaysia, dan bukanya pemerintah Indonesia. Hampir semua kebutuhan pokok berupa makanan yang kita makan sehari-hari adalah suplai dari pasar Malaysia.

Malaysia, sejak dulu menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Indonesia di perbatasan. Kalo aku tidak salah ingat, hampir semua produk makanan berasal dari negeri jiran itu. Penduduk di perbatasan biasa menukarkan barang-barang yang mereka punya dengan kebutuhan pokok yang di pasok dari Malaysia.

Begitulah aku memahami diriku sendiri setiap kali mengingat bulan Juni. Masa kecilku yang jauh di sana, memberikan banyak sekali pelajaran ketika aku melihat diriku di sini yang hidup penuh dengan kemudahan (meskipun kemudahan yang dimaksud adalah relatif). Paling tidak, masa-masa kecilku telah mengajarkan tentang makna ke-Indonesiaan. Ke-Indonesiaaan yang tidak saja diwarnai dengan realitas "keberagaman" yang indah, tetapi juga lengkap dengan ironi-ironinya. Suatu saat ingin sekali menjelajah Indonesia sampai sejauh itu.

Selasa, 11 Juni 2013

Di mana-mana Macet!!

Banyangkan 80 tahun yang lalu, duduk sendirian di depan Tugu Jogja yang ikonik itu. Apa yang akan terlihat? Aha, apalagi kalo bukan jalanan halus yang relatif lenggang. Tanpa suara bising dan polusi udara, dan hanya sesekali jalanan dilalui mobil, sepeda ontel, dan becak. Ya, itulah kira-kira Kota Jogja 80 tahun lalu. Kota Jogja saat itu, yang terekam dalam foto-foto jadul, terlihat sepi dan tenang. Jauh sekali dengan sekarang yang bising dan tak keruan.

Empat tahun yang lalu, saat aku memutuskan kuliah di UGM, aku masih percaya bahwa kota ini masih cukup aman bagi para pengendara sepeda ontel. Kepercayaanku itu bukan tanpa alasan. Orang-orang selalu menjuluki Jogjakarta dengan sebutan Kota Sepeda.

Kira-kira hanya dua minggu saja aku tahan berkendara dengan sepeda ontel di kota ini. Aku baru sadar, pengendara sepeda motor dan mobil jauh melebihi pengendara sepeda ontel. Kota ini ternyata tak cukup nyaman bagi pengendara sepeda genjot.

Bagaimana kondisi jalanan Kota Jogja sekarang? Ya, inilah yang menyedihkan. Di Jakarta atau di Bandung, setiap hari orang hidup dengan kemacetan. Nah, di Jogjakarta, kondisinya hampir bisa dikatakan sama. Kondisi jalanan di Jogjakarta tak lebih baik daripada kedua kota yang super macet se-Indonesia itu. Di Jogjakarta, setiap hari, terutama di siang hari hingga sore (saat jam pulang kantor), jalanan selalu penuh sesak.

Sejumlah tempat yang menjadi titik kemacetan diantaranya; Jalan Kaliurang, Jalan Gejayan, Jalan C. Simanjuntak, Jalan Monjali, Ring Road Utara, dan masih banyak lagi titik lainya. Di mana-mana di Jogja, jalanan selalu macet!!

Senin, 10 Juni 2013

Kabar Jogja dari Tempat Bernama Angkringan

Apa kabar Jogja hari ini? Pertanyaan itu yang mengawali hariku setiap pagi saat aku kembali membuka mata. Dan ketika aku melongok keluar jendela, aku selalu mengharapkan ada suguhan cerita baru di hari ini.

Aku tak pernah menganggap hari-hariku sebagai rutinitas yang membosankan. Buatku, semuanya berjalan mengalir, dan aku tahu apa yang harus ku lakukan setiap pagi. Mengeluhkan nasib karena melewati pagi yang biasa, menurutku hanya terjadi pada orang-orang yang tak pernah menghargai hidup. Aku bukan tipe orang yang pesimistik memandangi hidupku sekarang.

Aku bangun pagi. Mencuci muka. Lalu men-"starter" motor buntutku. Ritual wajib penyambutan pagi biasa ku lakukan di angkringan sekip peruhaman dosen UGM- di dekat Fakultas Teknik. Ya, hampir tiap pagi aku memesan secangkir teh hangat, sebungkus nasi sambal, dan dua gorengan, di angkringan itu. Bersama tukang becak, aku biasa bercakap saling bertukar pengalaman.

 
Di angkringan nan sederhana yang buka tiap hari Senin sampai Sabtu itu, aku mendapatkan informasi seputar Jogja setiap harinya. Bukan dari berita koran atau televisi yang selalu menyajikan berita yang sama. Cerita dari para tukang becak, buruh, mahasiswa teknik, dan penjual angkringan, adalah kabar Kota Gudeg hari ini. Dari ragam dan warna cerita itu, aku menemukan keseharian Jogja yang tak biasa. Keseharian yang jujur apa adanya. Dan bukannya keseharian di surat-surat kabar yang tak pernah aku mengerti.



Angkringan itu ibarat "Lapo" bagi orang Jogja. Kalo Lapo adalah kedainya orang Batak, tapi kalau angkringan milik orang Jogja. Angkringan adalah tempat dimana orang-orang bisa berkumpul, tidak hanya untuk makan dan memesan secangkir kopi atau teh, tapi juga saling bertukar pengalaman. Di angkringan, orang tak sungkan berbagi cerita. Tak pandang apakah mereka pernah bertemu sebelumnya atau tidak, angkringan tak punyai sekat yang menjauhkan jarak para pengunjungnya. Angkringan juga menjadi pusat informasi.

Kebiasaanku memesan teh di angkringan menjadi bekal mengarungi hariku setiap pagi. Dan, kebiasaan saling bertukar pengalaman itu pulalah yang menular pada diriku. Tak pandang tukang becak atau buruh biasa, mereka punya cerita masing-masing. Apa kabar Jogja hari ini, hanya mereka yang bisa menceritakanya di tempat yang sama bernama; angkringan.

Sabtu, 08 Juni 2013

Mengagumi Alam dan Belajar Sejarah di Kuningan

Kuningan selalu memikat. Kabupaten yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat ini menjadi pintu gerbang bagi bumi Parahyangan. Di tempat inilah budaya Sunda menampakan diri yang sebenarnya. Bahasa Sunda, logat bicara bernada halus rendah, dan tingkah laku yang mengedepankan asas kesopanan khas Sunda, menjadi warna keseharian masyarakat Kuningan.

Bulan Mei yang lalu aku sempat menyinggahi Kuningan untuk beberapa saat. Patung Kuda yang terdapat di taman kota menjadi tempat pertama yang aku kunjungi. Kesan yang muncul adalah bersih, sejuk, dan Indah. Ya, taman kota Kuningan yang dibangun sederhana dan minimalis itu jauh sekali dari kesan kumuh. Tak seperti pusat keramaian di kota-kota lain di Indonesia yang terkenal kesemrawutanya, pusat kota Kuningan dengan ikon Kuda-nya menjadi tempat yang cukup nyaman bagi siapapun yang ingin menghabiskan waktunya bersama orang-orang terdekat di tempat ini.

Tak jauh dari taman kota, Kuningan menawarkan obyek wisata yang tak kalah menariknya. Obyek wisata Sangkanhurip, demikian ia dikenal, menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh para pejalan dari luar daerah. Tanpa menunggu waktu lama, aku pun memutuskan untuk menyambangi tempat ini. Selain bisa merasakan sensasi pemandian air panas, aku juga dapat mencari penginapan yang relatif murah.

Jalan-jalan menyusuri tempat-tempat wisata di Kuningan menjadi pengalaman pertamaku yang sangat berkesan. Aku menemukan sebuah kabupaten yang tidak saja unik, tetapi juga sangat menawan. Berada di dataran tinggi, pemandangan pegunungan yang menghiasi lanskap kabupaten ini sepertinya telah memanjakan mataku. Semuanya hanya bukit-bukit dan tanaman padi yang menghijau. Dari tempat yang tidak begitu jauh, aku bisa mengamati dengan jelas puncak Gunung Ceremai, gunung tertinggi di Jawa Barat.

 
Mengagumi Alam Sambil Belajar Sejarah

Mungkin karena kebiasaan, kemana pun aku berpergian, aku selalu menanyakan tempat-tempat mana saja yang bersejarah. Aku percaya bahwa di hampir semua tempat di dunia ini pasti meninggalkan jejak-jejak masa lalu yang terus dikenang masyarakat. Begitu pula saat aku berada di Kuningan. Kepercayaan itu sama sekali tak pernah lepas dari pikiranku.

Mengingat-ingat peristiwa bersejarah di Kuningan, pikiranku terbesit pada sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di buku-buku sejarah selalu tercatat mengenai perundingan yang dikenal dengan sebutan Perundingan Linggarjati. Menurut buku sejarah, perundingan itu diselenggarakan di Linggarjati, sebuah tempat yang terletak persis di kaki Gunung Ceremai. Ini berarti, tempat perundingan Linggarjati itu tidak jauh dari tempatku berada sekarang.

Poster yang mempropagandakan dukungan perundingan Indonesia-Belanda

Seperti tercatat dalam nukilan sejarah Indonesia, pada bulan-bulan akhir tahun 1946, pemerintah Republik Indonesia menggelar perundingan pengakuan kedaulatan dengan pemerintah Belanda. Saat itu, pemerintah Indonesia sedang berjuang mendapatkan pengakuan kedaulatan dari pihak Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia. Sebagai usaha pertamanya, pemerintah Indonesia mengajak para pejabat Belanda untuk duduk dalam satu meja dan membicarakan status kedaulatan Indonesia. Bulan November 1946, perundingan Indonesia-Belanda digelar untuk kali pertama. Perundingan yang akhirnya menghasilkan pengakuan status Indonesia atas Sumatera, Jawa, dan Madura itu, kemudian dikenal dengan nama Perundingan Linggarjati.
Meja saling berhadapan antara delegasi Indonesia dan delegasi Belanda

Gedung Perundingan Linggarjati nampak dari samping.
Hanya dibutuhkan waktu 15 menit dari Sangkanhurip untuk menuju Geduang Perundingan Linggarjati. Perjalanan menuju gedung perundingan ini diwarnai dengan pemandangan alam Gunung Ceremai yang angkuh menjulang tinggi. Sambil mengagumi keindahan alam bumi Parahyangan, aku pun mulai bertanya-tanya, mengapa Perundingan Linggarjati diselenggarakan di tempat sejauh ini? Mengapa perundingan tidak diadakan saja di tempat yang dekat dengan pelabuhan, misalnya di Jakarta?
Tampak pemandangan puncak Gunung Ceremai