Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

Mie Koclok Cirebon, Nuansa Rasa yang Berbeda

Panasnya Cirebon di siang hari tak serta merta lenyap kala surya menyusup di ufuk timur. Kota ini tetap merupakan panggung yang sama, tempat di mana aktivitas manusia melaju bersamaan dengan waktu. Ribuan kendaraan, dari mulai becak, sepeda motor, angkutan umum, hingga mobil pribadi, saling berebut menguasai badan jalan. Praktis, denyut kota yang berdetak kencang di siang hari, hanya sedikit tertutupi oleh segelintir pemandangan yang menyejukan hati. Sekumpulan orang duduk menyangga sepincuk nasi jamblang di pinggir jalan adalah sekedar pemandangan berbeda yang tergambar di kota ini.

Saya mencoba mencari sesuatu yang berbeda itu di malam hari. Menyusuri jalan utama kota Cirebon dari kota tua hingga ke pusat kota, saya terkagum dengan kota super sibuk di pantai utara Jawa ini. Malam itu saya sengaja berkendara menggunakan sepeda motor untuk mencari kuliner khas yang biasa dijajakan dimalam hari.

Malam hari akan terasa pas jika perut yang mulai keroncongan ini diisi dengan sesuatu yang hangat. Ada dua pilihan; nasi goreng kuningan dan mie konclok cirebon. Meski keduanya menarik untuk saya cicipi, pilihan jatuh pada menu kedua. Alhasil, saya pun mencari penjual mie koclok cirebon yang memang biasa menggelar dagangannya di malam hari.

Sepuluh menit berkendara, warung mie koclok akhirnya saya temukan di dekat sebuah perlintasan kereta api. Hem... ini adalah kali pertama saya mencicipi mie kopclok khas cirebon. Konon, mie ini sangat lezat dan susah ditemukan di daerah lain. Tanpa basa-basi saya pun memesan seporsi mie koclok dan segelas teh tawar.

Mulanya saya mengira mie koclok ini seperti mie pada umumnya. Ketika saya belum mendapatkan pesanan saya, saya bahkan membayangkan mie ini akan sama seperti mie godog Magelang yang biasa saya temui di Kota Magelang. Mie godog Magelang adalah campuran mie rebus, telur, suwiran daging ayam, dengan guyuran kuah yang gurih. Mie godong akan mengeluarkan aroma bumbu rempah yang dominan saat mie ini disajikan panas-panas.

Perkiraan saya pun sirna saat mie koclok pesanan saya datang ke atas meja. Saya mengamati, mie ini seperti bubur sumsum yang berwarna putih susu. Kuah mie yang saya bayangkan seperti umumnya olahan mie lainnya, ternyata sangat berbeda dengan mie koclok pesanan saya ini. Kuah mie koclok cirebon berwarna putih susu dan menutupi seluruh mie. Dari berbagai sisi, mie koclok nampak seperti bubur sumsum yang didalamnya terdapat mie telur basah.


Disamping memiliki rupa yang unik, rasa mie koclok cirebon agak berbeda. Kuah kental yang terbuat dari tepung beras berwarna putih itu memberikan citra rasa yang spesial. Rasanya sedikit manis, tapi tidak membikin enek. Rasa manis sangat cocok dengan lidah saya yang terbiasa dengan makanan jawa yang manis-manis. Dalam seporsi mie koclok yang dipatok seharga 12 ribu rupiah ini, saya menemukan olahan mie yang lembut, suwiran daging ayam, telur rebus, dan kuah manis.

Setelah kenyang dengan sajian mie koclok, langkah kaki saya kembali bergegas untuk memburu kuliner khas lainnya. Adalah tahu petis, camilan tradisional yang menjadi favorit bagi orang Cirebon. Tahu petis juga dijajakan malam hari. Saya mencoba mencari tahu petis di pinggir jalan-pinggir jalan yang membelah pusat kota.


Cukup merogoh kocek 10 ribu rupiah, saya bisa menikmati sebungkus tahu petis. Tahu petis adalah tahu goreng yang dinikmati dengan cocolan petis sebagai pelengkap rasanya. Selain rasa gurih pada tahunya, rasa manis dan aroma petis membuat tahu petis memberikan rasa yang lezat. Ya, tahu petis yang dinikmati malam hari itu, menjadi menu penutup makan malam saya berbeda di kota Cirebon.  

Minggu, 07 Juli 2013

Cirebon Surganya Kuliner

Pagi di Kota Cirebon seperti datang lebih awal. Serasa baru saja merebahkan tubuh setelah perjalanan panjang semalam, sinar matahari nan terik sudah bertengger di atas atap rumah tempat saya menginap. Sangat jarang sekali menemui kota ini dengan suasana pagi yang dingin dan berudara segar.

Pertanyaan pertama yang muncul saat saya membuka tirai jendela adalah; sajian khas apalagi yang biasa dihidangkan kota ini untuk mengawali hari? Ya, sebuah pertanyaan yang wajar. Kota Cirebon, selain dikenal memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, juga menyediakan beraneka ragam khas sajian kuliner yang unik dan lezat. Bagi para pelancong yang doyan makan, kota ini menawarkan menu-menu istimewa yang patut untuk dicicipi. Ada nasi jamblang, docang, nasi lengko, mie koclok, dan banyak lagi kuliner yang dapat ditemui di sepanjang jalan di kota ini.

Setelah meminta pertimbangan dari seorang teman yang telah tahu banyak mengenai kota ini, saya memutuskan untuk mencicipi docang, kuliner khas kegemaran masyarakat Cirebon. Untuk menemukan docang tidak begitu sulit. Para penjaja kuliner yang satu ini biasa menjual dagangannya di pinggir-pinggir jalan. Dari tempat saya menginap di pinggir kota, mengendarai sepeda motor hanya dibutuhkan waktu kira-kira 15 menit untuk menemukan para penjual docang di jantung kota.
Seorang ibu penjual docang sedang menyiram kuah di atas piring

Menurut penuturan teman saya, docang merupakan kuliner khas yang biasa disajikan untuk sarapan pagi. Kedudukan kuliner ini bisa disamakan dengan gudeg atau nasi liwet yang dimiliki kota Yogyakarta dan Solo. Bila gudeg dan nasi liwet adalah menu sarapan orang Yogkarta dan Solo, maka docang menjadi menu sarapan favorit bagi orang Cirebon sebelum memulai aktivitasnya.

Dilihat sekilas tampilan seporsi docang terkesan “rame”. Sepiring docang terlihat seperti sup yang berisi lontong dan ditaburi kerupuk. Unsur bahan makanan lain yang terdapat dalam seporsi docang adalah daun singkong dan toge. Kekhasan makanan ini terdapat pada rasa kuahnya yang sangat gurih.


Seperti umumnya di berbagai tempat di Jawa, orang Cirebon menyimpan cerita unik dibalik makanan yang satu ini. Masyarakat Cirebon percaya bahwa docang merupakan peninggalan seorang pangeran Cirebon sejak berabad-abad lalu. Alkisah, suatu hari seorang pangeran mengadakan acara pengajian bersama dengan para pengikutnya. Oleh karena makanan yang disajikan untuk para pengikutnya tidak habis, si pangeran yang merasa kesal lalu mencampurkan makanan yang masih tersisa ke dalam sebuah wadah. Jadilah sisa-sisa makanan itu menjadi sebentuk makanan yang kemudian digemari para pengikutnya dan dikenal dengan nama docang.

Jika sarapan di pagi hari terasa pas dengan sepiring docang yang gurih, sajian makan siang menggugah selera saya temukan di dalam sepiring nasi lengko. Nasi lengko adalah kuliner khas Cirebon kedua yang saya nikmati. Di Cirebon kuliner yang identik dengan bumbu kacangnya ini juga dengan mudah dapat saya temui.
Salah satu rumah makan terkenal yang menyajikan nasi lengko adalah nasi lengko Pagongan milik H. Barno. Menjelang jam makan siang, rumah makan yang juga menawarkan menu sate kambing muda itu selalu ramai dipenuhi pengunjung. Umummnya pengunjung adalah warga Cirebon dan para wisatawan dari luar daerah yang ingin mencicipi kelezatan nasi lengko dan sate kambing muda olahan rumah makan H. Barno. Harga seporsi nasi lengko relatif murah.


Cirebon memang menawarkan sederet kuliner yang bukan saja lezat, tetapi juga legendaris. Tempat ini ibarat surga kuliner. Meski banyak sajian khas lainnya yang belum sempat saya cicipi, rasa menggugah docang dan nasi lengko sudah cukup untuk memenuhi hasrat lidah saya yang selalu penasaran dengan beragam kuliner lokal setiap kali mengunjungi sebuah kota.   

Cirebon, 5 Mei 2012