Kamis, 06 Juni 2013

Soto Pojok Muntilan

Dinginya udara pagi mengiringi perjalananku menuju Kota Magelang. Ini mengingatkanku pada suasana pagi ketika aku menginjakan kaki di Pasteur, Bandung, beberapa waktu yang lalu. Hawa dingin khas pegunungan dan warna langit yang mendung kehitaman menarik ingatanku pada sebuah pagi yang sama. Meski Magelang bukanlah Bandung di hari-hari biasa (karena panasnya), tapi entah mengapa aku merasakan kesamaan keduanya di pagi ini.

Ketika sepeda motorku melaju di Jalan Raya Pemuda, Muntilan, pertokoan milik orang-orang Cina yang berderet di pinggir jalan itu seolah menggerakan kakiku ke masa lalu. Memoriku terbuka kembali pada suatu pusaran waktu saat aku masih kanak-kanak di mana aku sering diajak berjalan kaki di depan pertokoan yang sampai sekarang tak banyak berubah itu. Toko kain, toko kelontong, apotik, toko sepatu Bata, dan toko-toko lainya masih berada di tempatnya masing-masing. Aku juga masih melihat ibu-ibu penjual buah-buahan yang selalu menggelar lapaknya di trotoar.

Tempat lain yang terlihat tak banyak berubah tentu saja adalah Pasar Muntilan. Pasar Muntilan yang sudah melekat sebagai pusat perputaran uang masyarakat Muntilan dan sekitarnya ini, tetap saja ramai dikunjungi para pembeli. Aku pun kagum. Di tengah-tengah pergesaran masyarakat kita yang mulai menyukai pasar modern (swalayan-mall), pasar tradisional Muntilan tetap menjadi pilihan bagi warga sekitar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Kesempatan bernostalgia ini tentu saja tak akan aku lewatkan dengan mengamat-amati saja. Aku pun kemudian turun dari sepeda motor dan memutuskan untuk mencari warung soto yang sudah sangat legendaris di Pasar Muntilan. Mencari warung itu tak sulit. Hanya melangkah dua ratus meter dari parkir sepeda motor, warung soto yang dikenal dengan sebutan warung Soto Pojok itu, akhirnya bisa ku temui.

Seingatku, warung Soto Pojok ini dari dulu selalu ramai di kunjungi pelanggangnya. Ayahku sering mengajaku ke warung ini. Dan, aku masih ingat betapa ramainya warung ini. Menariknya, bentuk warung ini tak berubah. Mungkin berubahan hanya terjadi pada cat dindingnya saja (aku tak ingat warna catnya saat aku pertama kali ke warung ini sekitar sepuluh tahun yang lalu).

Entah apa yang menyebabkan warung ini ramai. Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Malah, Soto Pojok bukan terkesan sebagai hidangan yang mewah. Soto Pojok disajikan di atas piring beling berwarna putih berisi bihun, toge, irisan wortel dan kol, suwiran ayam, dan taburan bawang goreng. Kuahnya yang bening menunjukan bahwa soto ini sangat berbeda dengan soto-soto lainya.

Aku lalu memesan seporsi soto ayam dan teh anget manis. Sepotong tahu bacem dan bergedel menambah sedap hidangan soto itu. Harga semuanya tidak mahal. Aku hanya harus membayar Rp. 9000, - saja untuk semua pesanku itu. Ya, sambil bernostalgia aku juga menikmati sarapan pagi di warung Soto Pojok, yang sudah sangat legendaris di Muntilan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar